BU KEK KANG SINKANG PDF

Yg jadi pertanyaan, apa dia botak karena pinter, atau pinter karena botak? HKPnya begitu ada kesempatan diketik lanjut Mengenai ayam dan telur Kabeh-heng finally post ke Indozone Untuk yang belum baca Saya sering melihat judul Bu Kek Kang Sinkang di serialsilat, namun malam bacanya.

Author:Dugor Malalkis
Country:Egypt
Language:English (Spanish)
Genre:Literature
Published (Last):7 July 2014
Pages:336
PDF File Size:15.6 Mb
ePub File Size:18.20 Mb
ISBN:138-6-65277-495-6
Downloads:17034
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Tutilar



Sepotong kalimat sederhana ini berulang-ulang kali terngiang di kepala Tan Leng-ko. Tidak dapat dipungkiri lagi, Lo Tong merupakan penjaga sebenarnya dari salinan kitab-kitab silat itu, yang Tan Leng-ko tidak habis mengerti dengan kesaktian Lo Tong, kenapa ia rela hanya menjadi seorang kacung-buku?

Jika ia berniat untuk menyusup masuk, dengan kesaktiannya ia dapat keluar-masuk memperoleh apa yang diingininya tanpa diketahui oleh seorangpun. Lalu urusan apa yang menahannya hingga ia tinggal bertahun-tahun di Lokyang Piaukiok?

Lalu siapakah jati diri si naga sakti yang sebenarnya? Apakah ia juga termasuk salah satu penghuni Lokyang Piaukiok? Pening Kepala Tan Leng-ko memikirkannya, hatinya terasa bimbang, mukanya semakin pucat.

Terlampau banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya dan terlalu sedikit jawaban yang memuaskan hatinya. Perlahan ia menarik napas dalam dalam mencoba menenangkan batin dan menghibur diri. Yaa, Bagaimanapun saktinya locianpwee itu, tidak mungkin ia memiliki ilmu memecah diri. Pencurian kitab-kitab tujuh perguruan jelas tidak mungkin dapat dilakukan oleh hanya satu orang, seharusnya sedari dulu ia telah memikirkan hal ini.

Seingat Tan Leng Ko penanggalan yang tercatat di punggung salinan kitab Kun-lun-pay Hui-liong Cap-sa-sik yang dilihatnya tempo hari di kamar Khu Han-beng, tidak terpaut terlalu lama dengan tanggalan yang tertera di salinan kitab Thay-kek-kun milik Butong-pay. Sedangkan lokasi ke dua tempat itu terlampau jauh, jelas pencurian kitab perguruan besar tersebut tidak dapat dilakukan hanya oleh satu orang, melainkan harus dilakukan oleh sekelompok orang, dan Lo Tong jelas merupakan salah satu dari kelompok mereka.

Sekaligus juga merupakan buntut baginya untuk melihat kepala sinaga sakti. Puas dengan analisanya, Tan Leng-ko menutup buku jurnal kerja yang dipegangnya. Tanpa ia sadari, tangannya berhenti bergerak ketika matanya membaca sesuatu yang sempat membuat mulutnya mengeluarkan suara tawa kecil.

Mendadak suara tawanya tenggelam ditelan desingan nyaring pedang yang sedang dicabut dari sarungnya. Sesosok bayangan manusia tampak berkelebatan masuk, dan dengan kecepatan bagaikan kilat menyerangnya dengan ganas!

Pedang orang itu bagaikan seekor ular beracun yang keluar dari liangnya langsung mematuk, menusuk ke dada Tan Leng-ko. Belum cahaya pedang yang berkelebat tiba, Tan Leng-ko dapat merasakan hawa dingin yang sangat tajam menyayat tubuhnya. Tentu saja serangan mematikan itu membuat Tan Leng-ko terkejut, cepat ia menimpuk buku jurnal yang dipegangnya menyambut tusukkan pedang itu. Dalam sekejap buku kerja itu hancur berkeping-keping terkena hawa pedang. Tapi bukan lemparannya tidak berguna, sesaat hawa pedang tersebut melemah, memberi kesempatan yang cukup bagi Tan Leng-ko untuk menjatuhkan diri berguling kesamping.

Dengan gerakan kilat Tan Leng-ko melenting berdiri dan dengan tergesa-gesa ia bergeser menjauh beberapa tindak, hampir ia menabrak patung Mik Lik-bud yang terletak di samping rak lemari buku. Cepat ia menoleh, jarak diantara mereka cukup dekat sehingga ia dapat melihat sepasang mata yang memancar sinar licik lagi kejam tapi seperti juga keheranan di balik lelaki berkedok kain hitam yang membungkus kepala penyerangnya itu.

Sebelum Tan Leng-ko menempatkan diri di posisi yang lebih baik, kembali pedang orang itu berputar mengikuti gerak badannya. Ujung pedang lawan yang sangat tipis lagi tajam mengancam bit-kian-hiat, hiat-to mematikan di depan dada Tan Leng-ko. Serangan lawan selain cepat juga ganas sekali sehingga tiada tempo bagi Tan Leng-ko untuk menangkis mempertahankan diri. Melihat ujung pedang lawan mengancam dirinya, dengan sigap Tan Leng-ko menekuk pinggangnya ke belakang sehingga badannya seperti papan yang menggantung ditopang dengan kuda-kuda kakinya.

Orang berkedok hitam itu terdengar seperti mendengus, ia menggerakkan pergelangan tangannya memacul ke bawah. Hati Tan Leng-ko berdesir, ia cukup memahami tidak akan pernah ada jurus pedang semacam itu.

Walau tenaga hentakkan pergelangan tangan bersifat lemah tapi dengan ketajaman pedang lawan sudah lebih dari cukup untuk membinasakan dirinya. Dalam perhitungan waktu yang lebih cepat daripada menuturkannya, Tan Leng-ko mengerahkan tenaga dikedua pahanya mendorong tubuhnya ke belakang hingga pundaknya menompang patung Mik Lik-bud yang setinggi dirinya.

Meremang bulu kuduk Tan Leng-ko ketika ia dapat merasakan dinginnya pedang lawan ketika berkelebat disela-sela kedua kakinya. Situasi menjadi terbalik, justru modal tunggal Tan Leng-ko yang sekarang terancam! Tan Leng-ko menarik napas panjang sambil mengerahkan ginkang. Tendangan kakinya yang barusan tidak mengenai sasaran menimbulkan daya lenting yang mementalkan tubuhnya melengkung ke atas. Dengan dibantu kedua tangannya, ia menekan perut buncit patung Mik Lik-bud sehingga tubuhnya melayang berjungkir balik dengan kaki diatas.

Mencelos hati Tan Leng-ko ketika merasakan goloknya melorot turun, terlepas dari sarungnya. Dia juga dapat merasakan hawa pedang lawan mengancam punggungnya. Terdengar suara siulan nyaring ketika Tan Leng-ko meraih senjatanya yang melayang di udara sambil memutar tubuhnya menghantam goloknya ke batang pedang lawan dengan pengerahan tenaga sakti sedapatnya. Tan Leng-ko mengatur tubuhnya yang terapung, kedua kakinya menjejak pada sudut langit kamar, dengan tenaga tolakan ini tubuhnya berganti arah meluncur balik.

Cahaya golok meluncur keluar dengan kecepatan luar biasa menebas ke depan. Segulung hawa dingin yang membeku berupa selapis kabut cahaya golok menerjang ke arah lawannya. Serangan Tan Leng-ko selain tepat juga lebih ganas, diam diam lawannya merasa terperanjat ketika ia rasakan aliran darahnya serasa membeku, tubuhnya menggigil kedinginan. Sukar baginya untuk mempertahankan diri, sambil membentak dan mengerahkan tenaga sakti, cepat ia meloncat menghindar. Sekalipun serangan golok yang dilancarkan Tan Leng-ko tidak menemui sasaran, namun sudah cukup menggetarkan musuhnya yang amat tangguh.

Ternyata ronce hitam di sarung pedang orang berkedok itu sudah terpapas putus! Tan Leng-ko mendengus, sembari menggerakkan goloknya dengan serangan susulan yang berbahaya. Melihat Tan Leng-ko memburu tiba serta menyerang, orang itu tidak tinggal diam, pedang ditangannya memutar kencang, mengayun dari bawah menebas ke atas, dalam sekejap ke dua belah senjata tersebut sudah saling bentrokan satu sama lain. Didalam bentrokkan pertama, kedua belah pihak sama sama bertarung seimbang.

Dibentrokkan berikutnya, orang berkedok hitam itu nampak terhuyung tidak tahan menahan bacokan golok Tan Leng-ko yang disertai pengerahan tenaga sakti penuh. Diruang kerja Khu Pek Sim yang tidak terlampau luas dalam waktu singkat berubah menjadi sebuah ajang pertempuran yang amat seru.

Cahaya golok dan bayangan pedang sudah menyelimuti seluruh tubuh kedua orang itu yang bertarung diruang sempit sehingga orang lain sulit untuk menyaksikan jurus jurus serangan yang dipergunakan kedua orang itu dan langkah tubuh yang mereka gunakan. Orang berkedok itu tidak ingin menderita kerugian, ia menggunakan kelincahan tubuh dan keanehan jurus pedangnya untuk menyerang Tan Leng-ko. Tusukkan pedangnya yang disertai hawa dingin yang menyayat bergulung menyerang Tan Leng-ko bagaikan amukkan hempasan ombak yang saling menyusul tiada habisnya.

Tan Leng-ko kerepotan, ia harus mengakui keanehan jurus pedang lawan. Gerakkan orang itu tidak hanya menusuk atau menebas, bahkan meliputi gerakkan mengungkit, berubah arah menyerang lawan dari arah yang tidak terduga. Nampaknya hanya jurus Ouw Yang Ci-to yang dapat menandingi keanehan gerak pedang lawan tapi ia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak akan menggunakannya lagi. Ditengah seribu kerepotan, tiba-tiba Tan Leng-ko menemukan satu hal yang membuatnya kegirangan.

Tubuhnya dirasakan jauh lebih ringan, ayunan goloknya membawa hawa dingin menusuk tulang yang mempengaruhi gerak tubuh lawannya. Tangan kirinya yang melakukan totokkan dan cengkraman mengandung hawa panas yang menghanguskan. Menyadari kemampuan tenaga saktinya diatas kemampuan lawan, Tan Leng-ko mengubah siasat dengan menerkam lawan sambil mengerahkan tenaga penuh mengadu senjata.

Tan Leng-ko menyeringai kesakitan ketika beberapa bunga api memercik mengenai punggung tangannya. Tapi dalam bentrokkan kali ini, si kedok hitam tak mampu menahan getaran tenaga sakti yang terpancar dari golok Tan Leng-ko. Pergelangan tangannya menjadi kaku dan linu walau ia sudah mempergunakan segenap kekuatan yang dimilikinya. Pedangnya terlepas dari genggaman dan mencelat ke udara. Tubuhnya cepat membalik, melenting ke pintu, jelas sekali ia berniat untuk kabur.

Mendadak terdengar jeritan kaget dari pintu keluar. Terkesiap darah Tan Leng-ko ketika melihat kemunculan Giok Si disaat yang tidak menguntungkan.

Orang berkedok hitam segera memanfaatkan situasi, tubuhnya berkelebat ke belakang tubuh Giok Si, jari tangan kanannya mengancam hiat-to mematikan di pelipis gadis malang itu yang tentu saja menjadi ketakutan. Sambil menganggukkan kepala ia memandang Tan Leng Ko dengan sorot kekaguman. Ia benar benar heran karena ia tidak menyangka lawan akan memujinya. Dipuji sedemikian rupa membuat perasaan Tan Leng Ko jengah, mukanya memerah, ia sedikit salah tingkah. Kemarahannya tadi entah sudah menguap kemana.

Tapi tangannya tidak tinggal diam, tangan kirinya terlihat mencekeram leher Giok Si dengan kuat. Telinga gadis itu yang belum sembuh kembali mengeluarkan darah segar, tenggorokkannya mengeluarkan suara tercekik. Bukan karena ucapannya, tapi cara nada ucapannya. Hanya orang berbahaya yang dapat berkata dengan cara demikian.

Menggunakan nada halus dan simpatik, yang membuat dirinya sukar membantah ucapannya. Dan yang membuat perasaan Tan Leng Ko benar benar terkejut, dia tidak dapat menyelami isi hati orang itu! Orang itu benar benar tulus ketika memuji, benar benar memelas ketika gegetun.

Meninggalkan kesan, orang itu menyukai hal yang baik dan membenci hal yang buruk. Tapi apa yang ia kerjakan sejauh ini bertentangan dengan nilai tersebut. Benar benar seorang lawan yang berbahaya! Di luar dugaan justru perempuan dipelukkannya yang memberi penjelasan dengan gumaman memilukan tapi cukup jelas.

Tentu saja ia enggan untuk membunuh diri demi seseorang yang baru dia kenalnya. Tidak mungkin ia mau mempedulikan nasibku. Apalagi aku hanya seorang pelacur yang sudah ludes modal kerjanya. Kedatanganku kemari sebetulnya untuk mati ditangannya. Giok Si menatap Tan Leng Ko dengan terkejut. Ia tidak menyangka pemuda itu akan menjawab secepat dan setegas itu. Dengan pandangan nanar ia terus menatap Tan Leng Ko tanpa berkedip.

Perlahan matanya mulai digenangi linangan air mata, bibirnya digigit kencang hingga berdarah, entah karena menahan sakit atau entah karena ia berduka. Yang ditatap tidak tega, tapi sebelum Tan Leng Ko mengucapkan sesuatu, dengan gerakkan perlahan seperti takut melukai, orang berkedok hitam itu menolehkan kepala Giok Si kearahnya.

Jawabannya barusan yang tegas dan menyakitkan hatimu sebenarnya bertujuan untuk mengelabuiku. Jika dia tidak mempedulikan nasibmu, tentu dia telah menyerangku semenjak tadi. Dia tidak menyerang karena sangat memperhatikan nasibmu. Lawannya kali ini benar benar musuh yang paling menakutkan yang pernah ia jumpai seumur hidupnya.

LIBRO LA DOBLE VIDA DE GWENDOLYNNE PRICE PDF

Goresan diSehelai Daun

Sepotong kalimat sederhana ini berulang-ulang kali terngiang di kepala Tan Leng-ko. Tidak dapat dipungkiri lagi, Lo Tong merupakan penjaga sebenarnya dari salinan kitab-kitab silat itu, yang Tan Leng-ko tidak habis mengerti dengan kesaktian Lo Tong, kenapa ia rela hanya menjadi seorang kacung-buku? Jika ia berniat untuk menyusup masuk, dengan kesaktiannya ia dapat keluar-masuk memperoleh apa yang diingininya tanpa diketahui oleh seorangpun. Lalu urusan apa yang menahannya hingga ia tinggal bertahun-tahun di Lokyang Piaukiok?

IBM X3850 X5 DATASHEET PDF

BU KEK KANG SINKANG

Harap diceritakan ada urusan apakah yang kiranya dapat kami bantu, dan harap jangan membawa-bawa nama Pulau Es. Ada urusan apakah yang menyangkut Pulau Es? Mendengar ini Tee-tok tersenyum dan memandang. Gerakan pedang Nona tadi hebat bukan main

BS EN ISO 5456-2 PDF

Bu Kek Kang Sinkang

.

Related Articles