KAJIAN SEMANTIK DAN PRAGMATIK PDF

Istilah ini merupakan istilah baru dalam bahasa Inggris. Para ahli bahasa memberikan pengertian semantik sebagai cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik atau tanda-tanda lingual dengan hal-hal yang ditandainya makna. Istilah lain yang pernah digunakan hal yang sama adalah semiotika, semiologi, semasiologi, dan semetik. Pembicaraan tentang makna kata pun menjadi objek semantik. Itu sebabnya Lehrer mengatakan bahwa semantik adalah studi tentang makna lihat juga Lyons 1, , bagi Lehrer semantik merupakan bidang kajian yang sangat luas karena turut menyinggung aspek-aspek struktur dan fungsi bahasa sehingga dapat dihubungkan dengan psikologi, filsafat, dan antropologi.

Author:Balrajas Sazshura
Country:Malta
Language:English (Spanish)
Genre:Environment
Published (Last):10 May 2019
Pages:240
PDF File Size:6.49 Mb
ePub File Size:13.38 Mb
ISBN:799-4-40241-993-3
Downloads:68980
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Tygokus



Pragmatik adalah kajian ilmu bahasa tentang hubungan tanda dengan orang yang menginterpretasikan tanda itu. Saat ini topik pragmatik sangat dikenal dalam linguistik. Padahal dahulu pragmatik dianggap tidak penting. Sikap ini berubah ketika pada akhir tahun an Chomsky menemukan titik pusat sintaksis. Namun sebagai seorang struktualis ia masih menganggap makna terlalu rumit untuk dipikirkan dengan sungguh- sungguh.

Kemudian pada tahun lakoff dan lain- lainnya berargumentasi bahwa sintaksis tidak dapat dipisahkan dari studi penggunaan bahasa.

Sejak saat itu pragmatik masuk dalam peta linguistik. Masuknya pragmatik dalam linguistik merupakan tahap akhir dalam gelombang ekspansi linguistik, dari sebuah ilmu sempit yang mengurusi data fisik bahasa, menjadi suatu disiplin ilmu yang luas yang meliputi bentuk, makna dalam konteks. Tetapi, ini tahap perkembangan jalur utama aliran linguistik di belahan Amerika. Pada an di belahan Eropa sudah berkembang kegiatan mengkaji bahasa dengan mempertimbangkan makna dan situasi aliran praha, aliran firth dan pada tahun an Halliday megembangkan teori social mengenai bahasa.

Disini kita akan membahas : a. Sejarah dan Latar Belakang Lahirnya Pragmatik b. Defenisi Pragmatik Menurut Para Ahli c. Hakikat Pragmatik. Selanjutnya melalui makalah Pragmatik ini juga kita mampu menjelaskan hakikat pragmatik sebagai salah satu kajian ilmu tata bahasa untuk dapat diterapkan melalui penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Ia sebenarnya mengolah kembali pemikiran para filsuf pendahulunya seperti Locke dan Peirce mengenai semiotik ilmu tanda dan lambang. Oleh Morris semiotik dibagi menjadi tiga cabang : sintaksis, semantik, dan pragmatik. Sintaksis mempelajari hubungan formal antara tanda-tanda, semantik mempelajari hubungan antara tanda dengan obyek, dan pragmatik mengkaji hubungan antara tanda dengan penafsir.

Tanda-tanda yang dimaksud di sini adalah tanda bahasa bukan tanda yang lain. Perubahan linguistik di Amerika pada tahun an diilhami oleh karya filsuf-filsuf seperti : Austi dan Searle , yang melimpahkan banyak perhatian pada bahasa. Teori mereka mengenai tindak ujaran mempengaruhi perubahan linguistik dari pengkajian bentuk-bentuk bahasa yang sudah mapan dan merata pada tahun an ke arah fungsi-fungsi bahasa dan pemakaiannya dalam komunikasi.

Di Indonesia konsep pragmatik baru diperkenalkan pertama kali dalam kurikulum bidang studi Bahasa Indonesia Kurikulum yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bila dibandingkan dengan munculnya istilah pragmatik kita tampaknya jauh ketinggalan dari mereka.

Yang penting adalah apa sebenarnya yang dimaksud dengan pragmatik dalam hubungannya dengan kajian bahasa. Perkembangan Pragmatik Dunia Pragmatik telah tumbuh di Eropa pada an dan berkembang di Amerika sejak tahun an. Morris dianggap sebagai peletak tonggaknya lewat pandangannya tentang semiotik. Ia membagi ilmu tanda itu menjadi tiga cabang: sintaksis, semantik, dan pragmatik. Kemudian Halliday yang berusaha mengembangkan teori sosial mengenai bahasa yang memandang bahasa sebagai fenomena sosial.

Di Amerika, karya filsuf Austin dan muridnya Searle , , banyak mengilhami perkembangan pragmatik. Dalam karya tersebut, Austin mengemukakan gagasannya mengenai tuturan performatif dan konstatif. Gagasan penting lainnya adalah tentang tindak lokusi, ilokusi, perlokusi, dan daya ilokusi tuturan. Beberapa pemikir pragmatik lainnya, yaitu: Searle mengembangkan pemikiran Austin.

Ia mencetuskan teori tentang tindak tutur yang dianggap sangat penting dalam kajian pragmatik. Tindak tutur yang tidak terbatas jumlahnya itu dikategorisasikan berdasarkan makna dan fungsinya menjadi lima macam, yaitu: representatif, direktif, ekspresif, komisih, dan deklaratif.

Grice mencetuskan teori tentang prinsip kerja sama cooperative principle dan implikatur percakapan conversational implicature. Menurut Grace, prinsip kerja sama adalah prinsip percakapan yang membimbing pesertanya agar dapat melakukan percakapan secara kooperatif dan dapat menggunakan bahasa secara efektif dan efisien. Prinsip ini terdiri atas empat bidal: kuantitas, kualitas, relasi, dan cara. Menurut Gunarwan 54 , keunggulan teori prinsip kerja sama ini terletak pada potensinya sebagai teori inferensi apakah yang dapat ditarik dari tuturan yang bidal kerja sama itu.

Hal ini berdasarkan penelitian tentang penerapan prinsip kerja sama di masyarakat Malagasi. Goody menemukan bahwa pertanyaan tidak hanya terbatas digunakan untuk meminta informasi, melainkan juga untuk menyuruh, menandai hubungan antarpelaku percakapan, menyatakan dan mempertanyakan status. Fraser telah melakukan deskripsi ulang tentang jenis tindak tutur. Gadzar membicarakan bidang pragmatik dengan tekanan pada tiga topik, yaitu: implikatur, praanggapan, dan bentuk logis.

Gumperz mengembangkan teori implikatur Grizer dalam bukunya Discourse Strategies. Ia berpendapat bahwa pelanggaran atas prinsip kerja sama seperti pelanggaran bidal kuantitas dan cara menyiratkan sesuatu yang tidak dikatakan. Sesuatu yang tidak diekspresikan itulah yang dinamakan implikatur percakapan. Levinson mengemukakan revisi sebagai uapaya penyempurnaan pendapat Grize tentang teori implikatur.

Leech mengemukakan gagasannya tentang prinsip kesantunan dengan kaidah yang dirumuskannya ke dalam enam bidal: ketimbangrasaan, kemurahhatian, keperkenanan, kerendahhatian, kesetujuan, dan kesimpatian. Mey mengemukakan gagasan baru tentang pembagian pragmatik: mikropragmatik dan makropragmatik. Schiffrin mambahas berbagai kemudian kajian wacana dengan menggunakan pendekatan pragmatic.

Yule mengembangkan teori tentang PKS dengan menghubungkannya dengan keberadaan tamengan hedges dan tuturan langsung-tuturan tak langsung. Ia mengidentifikasi adanya lima karakteristik yang harus dipertimbangkan di dalam CDA, yaitu: tindakan, konteks, historis, kekuasaan dan ideologi.

Perkembangan Pragmatik di Indonesia. Istilah pragmatik secara nyata di Indonesia muncul pada ketika diberlakukannya Kurikulum Sekulah Menengah Atas tahun Dalam kurikulum ini pragmatik merupakan salah satu pokok bahasan bidang studi bahasa Indonesia Depdikbud, Beberapa karya mengenai pragmatik mulai bermunculan.

Diawali oleh Tarigan yang membahas tentang pragmatik secara umum. Pada karya Tallei , Lubis , dan Ibrahim tampak deskripsi yang agak mendalam, tetapi orisinalitas gagasanya agak diragukan karena, terutama pada karya Tallei, hampir sepenuhnya mengacu pada buku Discourse Analyses karya Stubbs Buku pragmatik pertama yang tergolong kritis adalah karya Bambang Kaswanti Purwo dengan judul Pragmatik dan Pengajaran Bahasa.

Karya Wijana yang berjudul Dasar-dasar Pragmatik sudah menuju ke arah pragmatik yang lebih lengkap dan mendalam. Beberapa penelitian pun telah dilakukan dalam rangka disertasi, di antaranya adalah Kaswanti Purwo , Rofiudin , Gunarwan , Rustono , dan terakhir Saifullah dalam tesis magisternya. Menurut Leech dalam Wijana dan Rohmadi, 5 pragmatik sebagai cabang ilmu bahasa yang mengkaji penggunaan bahasa berintegrasi dengan tatabahasa yang terdiri atas fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik melalui semantik.

Parker mengemukakan pragmatik sebagai salah satu cabang ilmu bahasa yang mempelajari bahasa secara eksternal atau berdasarkan makna konteks. Berikut penjelasan yang diutarakan oleh Parker. Menurut Leech dan Wijana dalam Wijana dan Rohmadi, pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang semakin dikenal pada masa sekarang ini walaupun kira-kira dua dasa warsa silamilmu ini jarang atau hampir tidak pernah disebut oleh para ahli bahasa.

Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis bahwa upaya menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatic, yakni bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi. Kata kunci menurut Parker terletak dari makna yaitu bahasa yang digunakan dalam situasi berkomunikasi. Situasi berkomunikasi yang dimaksud adalah konteks ketika sebuah ujaran digunakan mempengaruhi makna dari ujaran tersebut.

Hal yang senada diutarakan oleh Wijaya dan Rohmadi , pragmatik merupakan kajian yang menelaah makna wacana ditinjau dari segi konteks. Maksud konteks berhubungan dengan situasi kalimat yang dimaksud terjadi.

Hal ini dapat kita lihat dalam kutipan dialog berikut. Jangan sembarangan kalau bicara. Dia kan tetangga lama kita. Bayangkan saja Ibu Mertuanya saja kemarin diusir dari rumahnya, hanya gara- gara mau pamit pergi ke pasar loh, bunda. Dengan demikian, suatu kata bila ditinjau secara pragmatik, suatu kata, frase, klausa, dan kalimat akan mengalami perubahan makna bila konteks pembicaraan dalam komunikasi berbeda.

Dengan kata lain, makna yang dikaji dalam pragmatik merupakan makna yang terikat konteks, berbeda halnya dengan semantik yang mengkaji makna yang bebas dengan konteks. Kajian pagmatik juga diutarakan oleh Leech sebagai salah satu bagian dari ilmu bahasa yang menelaah penggunaan bahasa yang berintegrasi dengan fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.

Dari pendapat Leech ini, kajian pragmatik bekerja mengkaji suatu penggunaan bahasa yang tidak bisa terlepas dari unsur fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.

Dari beberapa pendapat ahli bahasa tersebut, dapat disimpulkan bahwa pragmatik merupakan salah satu cabang ilmu bahasa yang mengkaji makna suatu bahasa ditinjau dari penggunaan bahasa dalam berkomunikasi atau terkait dengan konteks eksternal ketika bahasa digunakan dalam berkomunikasi. Bahasa sebagai sesuatu yang bersifat abstrak dan manasuka sulit untuk diterjemahkan.

Begitupun kaum strukturalis mengalami hambatan dalam memaknai bahasa ketika dihadapkan pada suatu konteks. Pada tahun-tahun sebelumnya, khususnya tahun an, linguisitk menurut kaum struktural dianggap hanya mencakup fonetik, morfologi, dan fonemik.

Kemudian, pada era Bloomfield, kajian sintaksis dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan makna dikesampingkan dalam pencaturan linguistik karena dianggap terlampau sulit untuk diteliti dan dalam proses analisis. Pada tahun an dengan berkembangnya teori linguistik Chomsky, sintaksis telah mendapatkan tempat dalam linguistik.

Dalam teorinya, linguistik yang berlatar belakang filsafat mentalis ini menegaskan bahwa sintaksis merupakan bagian dari linguistik yang bersifat sentral. Gagasan kesentralan sintaksis itu kemudian mendatangkan pradigma baru dalam dunia linguistik. Sekalipun linguistik Chomsky dianggap lebih maju disbanding era linguistik sebelumnya, bagi tokoh ini masalah makna masih dianggap sulit untuk dianalisis.

Pada awal tahun an, para linguis yang bernuansa transformasi generatif seperti Ross dan Lokoff, menyatakan bahwa kajian sintaksis itu tidak bisa memisahkan diri dengan konteksnya.

Sejak saat itu pula lahir sosok baru dalam dunia linguistik yang disebut prgmatik, khususnya untuk linguistik yang berkembang dibelahan bumi Amerika.

Dapat dikatakan bahw dengan munculnya tokoh-tokoh itu telah menandai telah runtuhnya hipotesis tentang teori-teori bahasa yang telah berkembang diera-era sebelumnya. Istilah pragmatik sebenarnya sudah mulai dikenal sejak masa hidupnya seorang filusufi terkenal bernama Charles Morris.

Dalam memunculkan istilah pragmatic, Morris mendasarkan pemikirannya berdasarkan gagasan filusufi-filusufi pendahulunya seperti Charles Shanders Phierce, dan John Lokey yang banyak menggeluti ilmu tanda dan ilmu lambang semasa hidupnya yang biasa dinamai semiotika semiotics. Dengan berdasarkan pada gagasan filusufi itu, Morris membagi ilmu tanda dan ilmu lambang ke dalam tiga bagian yakni sintaktika sintaktics yakni ilmu tentang relasi formal tanda-tanda, semantika semantics yakni studi relasi tentang tanda-tanda dengan objeknya, dan pragmatika pragmatics yakni studi relasi tentang tanda-tanda dengan penafsirnya.

Berawal dari filusufi ternama inilah pragmatik terlahir dan bertengger dalam dunia linguistik. Linguistik yang lazimnya disebut sebagai ilmu yang mengkaji seluk-beluk bahasa keseharian manusia, memiliki beberapa cabang.

Cabang-cabang tersebut secara linguistik dapat diurutkan: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Dari urutan cabang-cabang linguistik itu, tampak bahwa pragmatik merupakan ilmu linguistik yang paling baru. Verhar menyebutkan bahwa lazimnya fonologi dibicarakan berdampingan dengan fonetik. Sebab keduanya sama-sama meneliti bunyi bahasa.

Fonetik meneliti bunyi bahasa berdasarkan pelafalannya dan sifat akustiknya.

LADY BIRD TADD DAMERON PDF

Semantik dan Pragmatik

Pengertian Semantik Kata semantik sebenarnya merupakan istilah teknis yang mengacu pada studi tentang makna. Istilah ini merupakan istilah baru dalam bahasa Inggris. Para ahli bahasa memberikan pengertian semantik sebagai cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik atau tanda-tanda lingual dengan hal-hal yang ditandainya makna. Istilah lain yang pernah digunakan hal yang sama adalah semiotika, semiologi, semasiologi, dan semetik. Pembicaraan tentang makna kata pun menjadi objek semantik.

ELOGIO DANZA LEO BROUWER PDF

Mengenal Perbedaan Semantik dan Pragmatik

Perbedaan 2. Perbedaan Semantik dan Pragmatik Semantik dan pragmatik adalah dua cabang utama dari studi linguistik makna. Keduanya diberi nama dalam judul buku itu dan mereka akan diperkenalkan di sini. Semantik adalah studi dari untuk arti: pengetahuan akan dikodekan dalam kosakata bahasa dan pola untuk membangun makna lebih rumit, sampai ke tingkat makna kalimat. Adapun pragmatik berkaitan dengan penggunaan alat-alat ini dalam komunikasi yang bermakna.

JOHANNISNACHT UWE TIMM PDF

Pragmatik adalah kajian ilmu bahasa tentang hubungan tanda dengan orang yang menginterpretasikan tanda itu. Saat ini topik pragmatik sangat dikenal dalam linguistik. Padahal dahulu pragmatik dianggap tidak penting. Sikap ini berubah ketika pada akhir tahun an Chomsky menemukan titik pusat sintaksis.

COSMIC WIMPOUT RULES PDF

Bagi yang tertarik mengkaji linguistik umumnya dan dua cabangnya ini khususnya, siapa tahu bisa berdiskusi di sini. Maaf tulisan masih amburadul, semoga masih jelas dapat dibaca dan dipahami. Ilmu tentang hubungan antara penanda dan petanda itu disebut semiotika. Morris mengatakan bahwa dalam semiotika terdapat tiga bidang kajian, yakni sintaksis syntax , semantik semantics , dan pragmatik pragmatics.

Related Articles